Skip to main content

Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij Episode 3



Selamat datang railfans!

Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij
Episode 3: Stasiun Purwareja Klampok – Stasiun Banjarnegara

Jalur yang kali ini penulis telusuri adalah jalur SDS dari Stasiun Purwareja Klampok hingga Stasiun Banjarnegara. Jalur ini melewati kecamatan Purwareja Klampok, Mandiraja, Bawang, dan kecamatan Banjarnegara. Panjang jalur ini kurang lebih 30 km. Dalam masa pembangunannya, jalur ini dibangun pada tahap pertama. Kondisi komponen-komponen perkeretaapian di jalur ini banyak yang sudah tidak terjaga sampai saat ini, namun rel-rel masih banyak yang terlihat, hal ini terlihat dalam beberapa foto yang akan ditampilkan di postingan ini. Dan penelusuran jalur SDS ini dilakukan pada tanggal 4 Januari 2018 (Kamis), dan menyedihkannya hal ini hanya dilakukan oleh penulis saja seorang diri. Berikut ini hasil dan keterangan penelusuran pada episode 3 ini:

Gambar 1. Ilustrasi jalur SDS yang ditelusuri (Stasiun Purwareja Klampok – Stasiun Banjarnegara) dilihat dari Google Earth.

Setelah membuat ilustrasi jalur SDS tersebut, kita sepertinya perlu menentukan lokasi-lokasi yang ingin kita dokumentasikan (foto) juga. Sehingga sehari sebelum penelusuran, penulis mencari informasi di internet yang membahas mengenai keberadaan jalur SDS ini. Informasi yang membahas tentang hal ini salah satunya berada pada situs/laman banjoemas.com.

Penulis selanjutnya membaca postingan dari website banjoemas.com pada laman http://www.banjoemas.com/2010/05/serajoedal-stoomtram-maatschappij.html yang membahas tentang jalur SDS dari Purwareja Klampok sampai Banjarnegara ini. Di laman tersebut terdapat informasi bahwa stasiun-stasiun yang terlewati sepanjang Purwareja Klampok sampai Banjarnegara ialah stasiun Purwareja Klampok - Gandulekor - Mandiraja - Purwonegoro - Gumiwang - Binorong - Mantrianom - Pucang - Wangon - Banjarnegara. Dari membaca informasi tersebut, penulis percaya akan informasi tersebut walaupun belum pernah penulis buktikan sendiri, namun itulah salah satu motivasi dari penelusuran ini yaitu untuk membuktikan keberadaan hal-hal yang diduga ada pada suatu waktu dan tempat tertentu, namun belum memiliki dokumen yang cukup untuk dijadikan sebagai bukti di masa depan.

Setelah itu penulis menyiapkan beberapa screenshot yang didapatkan dari Google Earth yang memuat foto udara pada daerah yang diduga adalah wilayah dimana stasiun-stasiun tersebut berada.

Gambar 2. Kumpulan screenshot dari Google Earth yang digunakan sebagai rencana penelusuran jalur SDS Purwareja Klampok - Banjarnegara menurut wilayah stasiun/halte yang dilewati.

Setelah itu hari berikutnya penulis sudah menyiapkan alat-alat seperti kendaraan, kamera, dan screenshot-screenshot tersebut. Tanki bensin kendaraan sudah diisikan sampai hampir penuh. Dan penulis sudah makan dan berdoa untuk penelusuran ini, sehingga penulis merasa siap untuk melakukannya (makan dan minum selanjutnya dilakukan pada saat dibutuhkan selama penelusuran saja).

Penulis memulai penelusuran dari stasiun Purwareja Klampok, dan melanjutkannya menuju setiap wilayah yang diduga terdapat peninggalan stasiun SDS.

Namun setelah tidak menemukan stasiun Gandulekor, dan Mandiraja (bekasnya tidak didokumentasikan), penulis lalu memutuskan untuk tidak berhenti lagi pada wilayah stasiun yang ada di screenshot GE. Penulis hanya berhenti untuk mengingat kondisi setiap lokasi yang berada di screenshot GE tersebut, namun tetap tidak mendokumentasikannya. Begitu pula dengan keberadaan sisa-sisa rel yang tidak penulis dokumentasikan.

Di sinilah penulis menyesal atas penelusuran yang dilakukan kali ini. Oleh karena itu penulis meminta maaf atas tidak tersedianya dokumen berupa foto tentang stasiun Gandulekor, Mandiraja, Purwonegoro, Gumiwang, Binorong, Mantrianom, Pucang, dan Wangon. Sebagai informasi tambahan, untuk stasiun Mandiraja, lokasinya berada di sebelah utara terminal Mandiraja (sekitar bank BRI) menurut informasi yang diberikan oleh seorang penduduk Mandiraja. Untuk stasiun Gumiwang, penulis mencurigai bahwa bangunan stasiun tersebut telah diubah menjadi pasar Gumiwang. Untuk stasiun Binorong, penulis menduga bahwa stasiun ini dahulu juga mengontrol percabangan jalur KA yang menuju PLTA Jenderal Sudirman (Waduk Mrican). Maka dari hal-hal tersebut, kesimpulannya, penulis tidak mendokumentasikan stasiun-stasiun tersebut karena belum memiliki informasi yang meyakinkan tentang lokasi dan keadaan stasiunnya saat itu, sehingga hanya satu stasiun saja yang dapat penulis dokumentasikan yaitu stasiun Banjarnegara (sudah terdapat beberapa dokumen dari sumber-sumber tertentu di internet).

Gambar 3. Overpass dan jembatan rel SDS yang berada di Banjarnegara.

Peninggalan SDS yang dapat terlihat jelas contohnya komponen berupa jembatan overpass dan jembatan kereta yang berada di kecamatan Banjarnegara. Kedua komponen tersebut telihat masih utuh. Komponen berupa besi penyangga dan pondasi penyangga jembatan sepertinya masih kokoh. Komponen berupa rel dan bantalannya juga masih utuh. Kedua peninggalan tersebut berada di sebelah timur stasiun Banjarnegara. Dan sepertinya peningalan tersebut adalah salah satu ikon Banjarnegara.
Selanjutnya penulis melanjutkan penelusuran untuk menemukan stasiun Banjarnegara. Dan stasiun tersebut telah penulis temukan. Berikut ini foto kondisi stasiun Banjarnegara:

Gambar 4. Stasiun Banjarnegara (difoto dari arah Timur Laut, Utara, Barat, dan Barat Daya).

Kondisi stasiun Banjarnegara baik karena masih memiliki bentuk yang kuno dan tembok yang tidak terlalu kusam. Kondisi bagian dalamnya belum bisa penulis dokumentasikan karena penulis belum bertemu pengurus bangunan stasiun tersebut. Kondisi bagian belakangnya telah menjadi bengkel bubut, namun sepertinya struktur bangunannya belum banyak berubah. Kondisi depannya adalah jalan kecamatan Banjarnegara yang telah diaspal. Luas stasiun ini sekitar 50 m2 (menurut penulis). Dan juga terdapat gerbong ketel yang tidak penulis fotokan karena sudah pernah terlihat di beberapa sumber di internet.

Setelah mendokumentasikan stasiun Banjarnegara, penulis merasa belum puas, namun sudah bahagia karena telah mendapatkan dokumen peninggalan SDS dan karena penulis juga telah menikmati pemandangan alam selama melakukan penelusuran kali ini. Untuk itu penulis pergi pulang ke rumah dengan pelan dan santai (karena kondisi cuaca saat itu mendung dan terkadang berhujan). Setelah mencapai rumah, penulis menyimpan dokumen penelusuran dan makan dan beristirahat. Hmm... penelusuran ini terasa cukup melelahkan.

Penulis sebenarnya ingin melanjutkan agenda penelusuran selanjutnya yaitu penelusuran jalur SDS Banjarnegara - Wonosobo. Namun sepertinya waktu libur penulis sudah mendekati masa tenggang. Sehingga penulis dengan sabar menunda agenda tersebut sampai waktu libur panjang berikutnya datang.

Dan cukup sekian saja yang dapat penulis sampaikan pada postingan episode 3 ini.
Maaf jika bahasa dan informasi yang disampaikan oleh penulis kurang berkenan bagi anda.
Nantikanlah dan bacalah episode-episode penelusuran berikutnya tentang Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij (jika sudah diposting). Terimakasih.

Comments

Popular posts from this blog

Hasil Dokumentasi Jalur KA Tuntang-Bringin

Selamat membaca, railfans!             Di post ini, saya akan menunjukkan hasil dokumentasi di sekitar jalur NIS yang berada di antara Tuntang-Bringin. NIS sendiri merupakan kependekan dari Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. NIS adalah salah satu perusahaan kereta api di Hindia Belanda (APKA, 1997). Kantor pusat NIS ada di Kota Semarang, dimana sekarang menjadi Lawang Sewu. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 27 Agustus 1863. Sebelumnya, pada tanggal 28 Agustus 1862 Pemerintah Hindia-Belanda telah memberikan konsesi kepada W. Poolman, Alex Frazer, dan E.H. Kol yang juga merupakan pendiri perusahaan ini untuk membangun jalur kereta api dari Semarang sampai Yogyakarta (Wibisono dan Kurniawan, 2014). Jalur utamanya dibuka pada tahun 1867 antara Semarang-Tanggung. Pada tahun yang sama, jalur cabang dari Kedungjati ke Stasiun Willem I (sekarang Museum KA Ambarawa) juga mulai dibuka. Dokumen di sekitar jalur NIS ini b...

Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij Episode 4

Selamat datang railfans! Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij Episode 4: Stasiun Banjarnegara – Stasiun Wonosobo Jalur yang kami telusuri kali ini adalah jalur SDS dari Stasiun Banjarnegara hingga Stasiun Wonosobo. Jalur ini melewati daerah seperti kota Banjarnegara, Singomerto, lalu Bandingan di Kabupaten Banjarnegara hingga Selokromo dan ujungnya kota Wonosobo di Kabupaten Wonosobo. Panjang jalur ini kurang lebih 47 km. Dalam masa pembangunannya, jalur ini terbagi menjadi tahap Banjarnegara-Selokromo (diresmikan pada tanggal 1 Mei 1916) dan tahap Selokromo-Wonosobo (diresmikan pada tanggal 7 Juni 1917). Kondisi komponen-komponen maupun peninggalan perkeretaapian di jalur ini sebagian masih utuh, karena masih terdapat beberapa peninggalan berupa rel, jembatan, underpass , overpass , dan bangunan stasiun di beberapa titik stop yang kami lewati selama penelusuran. Namun di sepanjang jalur, peninggalan berupa rel dan bantalannya sebagian besar tel...