Selamat
membaca, railfans!
Di post ini, saya akan menunjukkan
hasil dokumentasi di sekitar jalur NIS yang berada di antara Tuntang-Bringin.
NIS sendiri merupakan kependekan dari Nederlandsch-Indische Spoorweg
Maatschappij. NIS adalah salah satu perusahaan kereta api di Hindia Belanda
(APKA, 1997). Kantor pusat NIS ada di Kota Semarang, dimana sekarang menjadi
Lawang Sewu. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 27 Agustus 1863. Sebelumnya,
pada tanggal 28 Agustus 1862 Pemerintah Hindia-Belanda telah memberikan konsesi
kepada W. Poolman, Alex Frazer, dan E.H. Kol yang juga merupakan pendiri
perusahaan ini untuk membangun jalur kereta api dari Semarang sampai Yogyakarta
(Wibisono dan Kurniawan, 2014). Jalur utamanya dibuka pada
tahun 1867 antara Semarang-Tanggung. Pada tahun yang sama, jalur cabang dari
Kedungjati ke Stasiun Willem I (sekarang Museum KA Ambarawa) juga mulai dibuka.
Dokumen di sekitar jalur NIS ini berupa foto bangunan stasiun, emplasemen
stasiun, fasilitas di sekitar jalur, dan persilangan KA.
Jalur antar Tuntang-Kedungjati pada
tahun 2014 mulai direaktivasi oleh Kemenhub dan PT KAI (Persero), namun pada
tahun 2015 proyek tersebut dihentikan sementara. Alasan utama pemberhentian
tersebut adalah karena Kemenhub melakukan peninjauan ulang pada Detail
Engineering Design (DED). Jalur ini rencananya juga akan terkoneksi ke
Bedono, yangmana menjadi penghubung lintasan KA antara Ambarawa, Jogjakarta,
dan Magelang (JawaPos, 2018). Reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang
sepanjang 30,6 km ini juga mengaktifkan lima stasiun, yakni Stasiun Tuntang,
Stasiun Bringin, Stasiun Gogodalem, Stasiun Tempuran, dan Stasiun Kedungjati.
Selain
melakukan pengaktifan kembali jalur kereta api ini, Kemenhub juga akan menambahkan
halte yakni Halte Rawa Pening yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk menikmati
obyek wisata di Rawa Pening. Pengaktifan kembali jalur kereta
api Tuntang-Kedungjati ini bertujuan untuk menarik minat wisatawan dan mendukung
sektor pariwisata di Kabupaten Semarang (Tribun Jateng, 2018). Dengan
dilakukannya peninjauan ulang DED oleh Kemenhub, waktu dilanjutkannya proyek
reaktivasi jalur KA Tuntang-Kedungjati belum dapat dipastikan (setidaknya
hingga 2 Desember 2019).
Gambar 1. Jalur KA
Tuntang-Kedungjati dilihat dari citra satelit Google Earth (spot dokumentasi 1:
Stasiun Tuntang; spot dokumentasi 2: Persilangan KA bypass; dan spot
dokumentasi 3: Persilangan KA overpass).
Saya mengambil foto/memfoto pada
tanggal 29 November 2019. Foto-foto tersebut adalah dokumen yang akan
ditampilkan pada post kali ini. Saya sendiri tidak memiliki waktu yang cukup
pada saat pengambilan foto, sehingga saya tidak mendapatkan banyak foto (dokumen)
di sekitar jalur KA Tuntang-Bringin. Foto-foto diambil dengan menggunakan
kamera belakang Xiaomi Redmi Note 7. Berikut ini dokumen jalur KA Tuntang-Bringin
yang diambil pada 3 spot dokumentasi.
Saya memulai dokumentasi dari
Stasiun Tuntang yang berada di dekat jalan raya Salatiga-Ambarawa. Saya
berhenti dan berkeliling di sekitar stasiun tersebut untuk mengambil foto.
Sayangnya, saya tidak bisa memasuki area stasiun karena stasiun tersebut belum
dibuka untuk pengunjung. Sehingga, saya mendapatkan dokumen/foto dari luar
stasiun tersebut.
A.
Stasiun Tuntang
Stasiun ini berada di Kecamatan
Tuntang, Kabupaten Semarang. Stasiun ini bisa diakses melalui jalan besar
Salatiga-Ambarawa yang berada di Kecamatan tersebut. Bisa dibilang bahwa
stasiun ini merupakan stasiun terbesar di Kecamatan Tuntang. Pada saat
dokumentasi, stasiun tersebut sedang tidak difungsikan untuk wisata maupun
kunjungan wisatawan. Selain itu, terdapat pembangunan penambahan jalur yang
baru terlihat dari adanya susunan bantalan-bantalan rel di stasiun tersebut.
Keberadaan stasiun ini nampaknya menjadi salah satu ikon bagi Kecamatan
Tuntang.
Gambar 2. Emplasemen
Stasiun Tuntang dilihat dari arah selatan.
Jika anda memperhatikan jalur terujung
utara pada gambar di atas, maka anda dapat melihat bahwa jalur tersebut masih
berada dalam tahap pembangunan. Di stasiun ini sesungguhnya memiliki 5 jalur
yangmana 2 jalur terpisah di bagian utara stasiun. 2 jalur di emplasemen
stasiun bagian yang dekat dengan bangunan utama stasiun merupakan jalur tertua
yang dibangun paling awal.
Gambar 3. Emplasemen
Stasiun Tuntang dan sekitarnya dilihat dari arah timur.
Dari arah timur, stasiun ini jalur
kereta dapat terlihat lebih jelas. 5 jalur kereta dapat terlihat dari arah ini.
Di bagian ujung timur stasiun, jalur terhentikan dengan tanda stop dan pembatas
ujung rel. Rel kereta dalam jalur yang menuju ke arah Kedungjati pun sudah
tidak ada/dibongkar. Namun anda dapat melihat bahwa tanah pada jalur yang telah
dibongkar tersebut telah diratakan dan dihaluskan. Hal ini menandakan proyek
reaktivasi jalur KA Tuntang-Kedungjati memang akan diselesaikan dalam waktu dekat.
Nampaknya, jalur yang akan direaktivasi tetap berjumlah satu jalur, tidak
double track. Hal itu karena lebar lahan di area jalur hanya dapat memuat 1
jalur saja.
Gambar 4. Stasiun
Tuntang dilihat dari arah tenggara, selatan, dan barat daya.
Bangunan Stasiun Tuntang masih
merepresentasikan gaya kuno yang digunakan pada masa kolonial Hindia-Belanda.
Kebersihan dan segarnya warna tembok stasiun membuat kesan gaya kuno bangunan
masa kolonial semakin terlihat mengagumkan. Bagian-bagian seperti pintu, atap,
dan jendela juga masih dijaga keaslian bentuknya, sehingga stasiun ini dapat
disebut sebagai salah satu stasiun tertua yang masih memiliki gaya kuno
Hindia-Belanda yang asli.
Gambar 5. Sebuah
gerbong kereta wisata dan rodanya di depan Stasiun Tuntang.
B.
Bangunan di Sekitar Stasiun Tuntang
Selain bangunan stasiun dan
emplasemennya, Stasiun Tuntang juga memiliki beberapa bangunan kuno yang
nampaknya sudah tidak ditempati maupun difungsikan lagi. Bangunan-bangunan
tersebut pun terlihat berarsitekturkan gaya khas bangunan buatan Belanda pada
masa penjajahan Hindia-Belanda. Bangunan-bangunan tersebut terlihat tidak
terawat dalam segi kebersihan dan keutuhan bangunan, namun tidak terdapat
adanya bekas vandalisme/corat-coret di tembok bangunan-bangunan tersebut.
Gambar 6. Sebuah
bangunan kuno di seberang Stasiun Tuntang.
Saya belum tahu apa kegunaan
bangunan di atas. Menurut saya, bangunan tersebut sudah tidak difungsikan
sebagai rumah dinas maupun berhubungan dengan Stasiun Tuntang lagi. Hal itu
karena tidak dijumpainya narasumber yang mengetahui kepemilikan bangunan
tersebut saat saya mendokumentasikan bangunan/rumah tersebut. Meskipun
demikian, bangunan ini terlihat cukup terawat karena kebersihan warna cat
tembok dan bentuk bangunannya masih baik.
Gambar 7.
Bangunan-bangunan di samping Stasiun Tuntang bagian selatan.
Bangunan di gambar teratas berada di
bagian yang paling dekat dengan bangunan Stasiun Tuntang, sedangkan bangunan
lainnya terhubung dengan bangunan tersebut dengan bentuk memanjang ke arah
timur. Bangunan terdekat tersebut sudah diberi tanda cagar budaya dengan
kepemilikan oleh PT KAI. Bangunan tersebut terlihat berarsitekturkan khas
bangunan kuno buatan Belanda. Namun, beberapa bagian bangunan tersebut
sepertinya telah dibongkar. Untungnya, pada papan informasi cagar budaya pada
tembok bangunan ini terdapat larangan untuk merusak/mengubah keaslian bangunan
tersebut, sehingga belum terlihat adanya bekas vandalisme sampai saat itu.
Bangunan-bangunan lain terlihat
lebih kotor dan tidak terurus dibandingkan bangunan yang terdekat dengan
bangunan Stasiun Tuntang. Anda dapat melihat bahwa bangunan-bangunan tersebut
juga masih memiliki bentuk arsitektural khas buatan Belanda. Kemungkinan,
bangunan-bangunan tersebut sejatinya adalah 3 bagian yang dihubungkan. Hal ini
dapat dilihat dari adanya 3 latar dan 3 rumah pada keseluruhan rangkaian
bangunan-bangunan tersebut. Pelataran bangunan-bangunan tersebut telah
ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang merambat dan pohon yang tumbuh lebih lebar
dari latar tersebut. Hal itu mengindikasikan tidak terawat dan difungsikannya
lagi bangunan-bangunan tersebut.
Gambar 8. Bendungan
Tuntang dan sekitarnya dilihat dari bagian selatan.
Bendungan ini berada persis di
samping jalur KA Tuntang-Kedungjati. Pintu-pintu bendungan ini sedang dibuka
pada saat didokumentasikannya jalur tersebut. Keberadaan sungai yang dibendung
oleh bendungan tersebut dibentuk oleh Rawa Pening. Beberapa orang terlihat
sedang memancing di sekitar bendungan ini. Di bagian selatan bendungan,
terlihat adanya beberapa bantalan rel yang belum dipasang. Dapat dilihat dari
kode bantalan bahwa pemasangannya ditargetkan dilakukan pada tahun 2014, namun
realitasnya bantalan-bantalan tersebut belum terpasang hingga tahun 2019.
Selain itu, di bagian timur bendungan ini terdapat sebuah penahan sampah. Sampah
tersebut sebagian besar adalah sekumpulan tanaman enceng gondok yang mengalami
blooming maupun berasal dari Rawa Pening. Saya belum mengetahui untuk apa
tanaman-tanaman tersebut ditahan di situ.
Setelah puas mengambil gambar dan
berkeliling di sekitar Stasiun Tuntang, saya melanjutkan dokumentasi ke arah
Stasiun Bringin. Saya berniat untuk mengambil foto/gambar dua persilangan jalur
KA yang masih berada dalam tahap reaktivasi. Cuaca pada saat itu cukup panas
namun terang, namun pendokumentasian relatif tidak terganggu oleh hal tersebut.
Sebagai seorang railfan yang amatir, saya memiliki ketertarikan yang sulit
dijelaskan terhadap peninggalan jalur kereta. Sehingga dengan alasan tersebut,
saya dapat mentolerir kondisi lingkungan saat menelusuri jalur kereta api.
Okay, mari kita lanjutkan pada spot selanjutnya.
C.
Persilangan Jalur KA
Di antara Tuntang-Bringin, terdapat
dua persilangan jalur KA yang masih berada pada tahap pembangunan/reaktivasi. Persilangan
pertama berada di dekat jalan tol Bawen-Boyolali (di sebelah timur). Persilangan
tersebut berupa bypass/persilangan datar. Sedangkan persilangan kedua berada
relatif dekat dengan Stasiun Bringin. Persilangan kedua tersebut merupakan
overpass/persilangan atas yangmana bentuk strukturnya menyerupai jembatan,
namun tidak menggunakan komponen metal sepenuhnya.
Gambar 9. Persilangan
bypass jalur KA Tuntang-Bringin.
Persilangan ini masih belum
diselesaikan pembangunannya, terutama dalam hal perataan ketinggian tanah di
bagian persilangan dengan jalan. Jalur KA di kedua bagian persilangan ini
memiliki dibangun dengan ketinggian yang lebih rendah dari jalan. Sedangkan
dahulu ketinggian jalur tersebut masih sama dengan ketinggian jalan. Dapat
diperkirakan bahwa persilangan ini akan diubah menjadi underpass agar biaya rekonstruksi
jalan tidak terlalu banyak dan difokuskan pada pembuatan jembatan underpass
saja.
Setelah melalui persilangan bypass,
saya menuju ke arah Stasiun Bringin untuk mendokumentasikan persilangan
selanjutnya. Melalui jalan umum, saya mencapai persilangan kedua yaitu
persilangan overpass yang berada di Kecamatan Bringin. Persilangan tersebut
berjarak cukup dekat dengan Stasiun Bringin dan dapat dinaiki dengan berjalan
di atasnya.
Gambar 10.
Persilangan overpass jalur KA Tuntang-Bringin.
Jika dilihat dari kondisi
persilangan overpass di atas, maka dapat disimpulkan bahwa persilangan tersebut
telah direkonstruksi. Menurut kunjungan saya pada sekitar tahun 2010, bentuk
persilangan ini masih terlihat kuno khas buatan Belanda. Namun sekarang/pada
tahun 2015, bentuknya telah diubah menjadi lebih halus dan besar. Nampaknya rekonstruksi
tersebut dilakukan demi ketahanan dan kualitas struktur jembatan overpass yang
lebih baik. Jika dilihat dari atas, bangunan persilangan ini terlihat lebih
pendek daripada dilihat dari samping bawah. Dapat dilihat juga bahwa tanah di
area jalur KAnya telah diratakan. Namun, karena proyek reaktivasi belum
dilanjutkan, tanah di sepanjang jalur dan persilangan ini telah ditumbuhi lagi
oleh tanaman liar. Di kedua bagian samping persilangan ini, terdapat pertigaan
yang saling berlawanan arah. Pertigaan di bagian timur persilangan memiliki
bentuk berupa tanjakan yang mengarah ke utara. Sedangkan pertigaan di bagian
barat persilangan overpass berbentuk seperti huruf Y dan terdapat bebatuan yang
disusun di tengah pertigaan tersebut.
Setelah mendokumentasikan hal-hal di
sekitar jalur KA Tuntang-Bringin pada 3 spot dokumentasi, saya merasa cukup dan
puas akan kesempatan kali ini. Selain itu, terdapat agenda lain yang perlu saya
lakukan pada hari itu, sehingga saya tidak berencana untuk melanjutkan
dokumentasi hingga Stasiun Bringin. Hasil yang didapatkan pada 3 spot
dokumentasi sudah cukup menunjukkan kondisi proyek reaktivasi jalur KA
Tuntang-Kedungjati pada saat itu.
Terimakasih
atas kunjungan anda pada blogspot saya, terutama pada post ini!
Saya memohon maaf jika saya
mencantumkan informasi yang salah maupun kurang berkenan bagi anda. Komentar
tentang perbaikan maupun kesan dan saran dapat anda tulis pada kolom komentar.
Sekian yang dapat saya tunjukkan pada post ini. Semoga konten yang ditampilkan
bermanfaat bagi anda secara positif. Dan jika anda penasaran tentang kondisi
Stasiun Bringin yang tidak didokumentasikan pada pendokumentasian kali ini,
anda dapat melihatnya pada post lain di dalam blog ini. Bacalah post-post lain
yang terdapat di blog ini juga yang sesuai dengan minat anda. Terimakasih.
Daftar
Pustaka:
APKA. 1997. Sejarah
Perkeretaapian Indonesia Jilid 1. CV Angkasa. Bandung.
JawaPos. 2018. Reaktivasi
Jalur Kereta Api Kedungjati-Tuntang Teratung-katung. https://www.jawapos.com/jpg-today/28/08/2018/reaktivasi-jalur-kereta-api-kedungjati-tuntang-teratung-katung/.
Diakses 2 Desember 2019.
Tribun Jateng. 2018. Jalur Kereta Api Kedungjati-Tuntang Semarang Akan Diaktifkan Kembali,
Dukung Sektor Pariwisata. https://jateng.tribunnews.com/2018/12/17/jalur-kereta-api-kedungjati-tuntang-semarang-akan-diaktifkan-kembali-dukung-sektor-pariwisata.
Diakses 2 Desember 2019.
Wibisono K., dan Kurniawan H. 2014. Kereta Malam (edisi ke-Cet.1). Bentara Budaya
Yogyakarta. Yogyakarta.






































Comments
Post a Comment