Skip to main content

Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij Episode 4


Selamat datang railfans!

Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij
Episode 4: Stasiun Banjarnegara – Stasiun Wonosobo

Jalur yang kami telusuri kali ini adalah jalur SDS dari Stasiun Banjarnegara hingga Stasiun Wonosobo. Jalur ini melewati daerah seperti kota Banjarnegara, Singomerto, lalu Bandingan di Kabupaten Banjarnegara hingga Selokromo dan ujungnya kota Wonosobo di Kabupaten Wonosobo. Panjang jalur ini kurang lebih 47 km. Dalam masa pembangunannya, jalur ini terbagi menjadi tahap Banjarnegara-Selokromo (diresmikan pada tanggal 1 Mei 1916) dan tahap Selokromo-Wonosobo (diresmikan pada tanggal 7 Juni 1917). Kondisi komponen-komponen maupun peninggalan perkeretaapian di jalur ini sebagian masih utuh, karena masih terdapat beberapa peninggalan berupa rel, jembatan, underpass, overpass, dan bangunan stasiun di beberapa titik stop yang kami lewati selama penelusuran. Namun di sepanjang jalur, peninggalan berupa rel dan bantalannya sebagian besar telah hilang. Jalur SDS ini kami telusuri pada tanggal 28 Juni 2018 (Kamis).

Gambar 1. Ilustrasi jalur SDS yang ditelusuri (Stasiun Banjarnegara – Stasiun Wonosobo) dilihat dari Google Earth.

Gambar 2. Titik-titik stop penelusuran dari Banjarnegara hingga Wonosobo dilihat dari Google Earth.
Pada gambar 2, anda dapat melihat seluruh titik tujuan penelusuran yang dinamai stop. Titik-titik tujuan penelusuran tersebut adalah lokasi yang ditelusuri. Hal yang didokumentasikan pada setiap titik tersebut adalah peninggalan-peninggalan maupun bekas-bekas perusahaan SDS. Titik-titik tujuan tersebut dibuat menggunakan perkiraan jalur di dalam aplikasi Google Earth. Kami tidak dapat memastikan keakuratan keberadaan peninggalan SDS berdasarkan perkiraan tersebut saja, sehingga kami perlu menelusuri kepastiannya dengan melakukan penelusuran ini.

Berikut ini hasil-hasil yang kami dapatkan dari penelusuran kali ini:

A. Titik Stop 1:

Gambar 3. Gambar citra satelit di sekitar titik stop 1 dilihat dari Google Earth.


Gambar 4. Foto-foto yang didapatkan dari titik stop 1.
Setelah kami telusuri, peninggalan-peninggalan yang terdapat pada titik stop 1 hanya berupa bekas gundukan yang diperkirakan digunakan sebagai jalur SDS pada zaman dahulu. Terdapat juga papan-papan aset PT KAI di sekitar gundukan tersebut. Lokasi titik stop 1 sendiri berada di belakang Depo Pelita yang bersebelahan dengan pabrik serta berada di depan bangunan-bangunan yang kami duga merupakan calon perumahan baru. Bekas gundukan pada titik stop 1 ini dahulu mungkin memiliki ketinggian yang lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya jika dilihat berdasarkan pada gundukan yang telah ditumbuhi oleh tanaman di bagian timur titik stop ini.

B. Titik Stop 2:

Gambar 5. Lokasi stop 2 dilihat dari Google Earth.

Gambar 6. Foto bekas persimpangan KA dan jalan bekas persimpangan KA di sekitar titik stop 2 (1: dari arah utara; 2: dari arah timur).
Terdapat sedikit peninggalan SDS di titik stop 2. Peninggalan tersebut adalah palang persimpangan kereta yang dapat dilihat pada gambar 6 (1). Selain itu terdapat pula rel KA yang ada di sekitar titik stop 2 ini, namun tidak terfoto pada saat penelusuran. Persimpangan di titik stop ini telah ditutup dengan aspal jalan raya, sehingga keberadaan jalurnya sendiri tidak dapat terlihat jelas. Namun kami menduga bahwa pola jalur peninggalan SDS di titik stop ini adalah di bagian selatan belokan jalan raya yangmana di bagian baratnya telah ditumbuhi oleh tanaman/dijadikan kebun namun terdapat jalan setapak di atasnya (gambar 6: 2). Penulis juga menduga bahwa di sekitar titik stop 2 ini, terdapat suatu halte peninggalan SDS.

C. Titik Stop 3:

Gambar 7. Lokasi stop 3 dilihat dari Google Earth (jembatan KA).

Gambar 8. Foto jembatan KA SDS di sekitar titik stop 3 dilihat dari arah utara (1) dan selatan (2).
Kondisi keberadaan jembatan KA di titik stop 3 masih utuh. Jembatan tersebut terlihat masih kokoh dan pondasinya masih utuh. Selain itu belum terlihat adanya pencopotan maupun renovasi terhadap jembatan tersebut. Hal ini menandakan Pemda masih mempertahankan aset PT KAI ini. Di bagian atas jembatan tersebut, terdapat banyak tanaman yang menutupi rel.

D. Titik Stop 4 tidak sengaja kami lewati. Hal ini karena kami menyerah akan sulitnya menemukan lokasi titik stop 4. Sehingga hanya dapat penulis tampilkan gambar citra satelitnya saja:

Gambar 9. Lokasi titik stop 4 dilihat dari Google Earth.
Tepat sebelum titik stop 5, kami memfoto peninggalan SDS berupa jembatan KA yang terlihat masih utuh. Selain itu masih dapat dilihat pula rel yang berada di belakang bangunan kosong. Fotonya dapat dilihat di bawah ini.

Gambar 10. Peninggalan SDS berupa jembatan KA dan rel di dekat jalan sebelum mencapai titik stop 5.

E. Titik Stop 5:

Gambar 11. Lokasi titik stop 5 dan sekitarnya dilihat dari Google Earth.
Setelah kami mendatangi titik stop 5, ternyata lokasi tersebut merupakan bekas jalur SDS yang dicopot relnya. Penulis dengar bahwa pencopotan tersebut dikarenakan oleh ketinggian rel tersebut yangmana membatasi truk-truk yang ingin lewat karena ketinggian relnya rendah. Jalur KA SDS dapat dilihat pada gambar 11 (garis berwarna oranye). Kami belum mengetahui hal apa yang akan dilakukan terhadap lahan kosong di bekas jalur ini. Pada saat penelusuran, kami tidak menemukan orang sekitar yang mengetahui sejarah KA SDS di sekitar titik stop ini. Peninggalan berupa rel di jalur ini dapat dilihat pada foto-foto berikut ini.

Gambar 12. Bekas-bekas jalur KA di titik stop 5, dapat dilihat rel terpisah oleh jalan raya.

F. Titik Stop 6:

Gambar 13. Lokasi titik stop 6 (berupa jembatan KA) dilihat dari Google Earth.
Setelah kami telusuri, memang benar perkiraannya bahwa di lokasi tersebut terdapat jembatan KA yang melewati atas jalan raya yang disebut juga dengan overpass.

Gambar 14. Bekas aset Serajoedal Stoomtram Maatshcappij berupa jembatan KA yang berada di titik stop 6 (1: dilihat dari arah barat; 2: dilihat dari arah timur).
Sebelum mencapai ke titik stop 7, kami memfoto rel-rel yang terlihat di pinggir jalan raya. Foto-fotonya ada di bawah ini:

Gambar 15. Rel-rel peninggalan SDS yang berada di pinggir jalan raya antara titik stop 6 dengan titik stop 7.

G. Titik stop 7:

Gambar 16. Lokasi titik stop 7 jika dilihat dari Google Earth.
Awalnya penulis menduga bahwa bentuk bangunan pada titik stop 7 tersebut merupakan halte/stasiun dan di sekitarnya merupakan bekas emplasemen stasiun, namun ternyata bangunan tersebut adalah bangunan sementara yang kosong. Hal itu dapat dilihat dari kedua foto ini:

Gambar 17. Bekas jalur KA dan rel KA di sekitar titik stop 7 jika dilihat dari arah (1) barat dan (2) timur.

H. Titik Stop 8:
Dari citra satelit yang telah penulis buat jalur SDSnya, penulis menduga bahwa titik stop 8 merupakan persimpangan KA. Titik stop 8 dari Google Earth terlihat seperti berikut ini:

Gambar 18. Lokasi titik stop 8 dilihat Google Earth, yang diduga dahulunya merupakan persimpangan jalur KA dengan jalan raya.

Gambar 19. Bekas persimpangan jalur KA di titik stop 8 dilihat dari arah (1) selatan jalan dan (2) barat.
Foto yang memperlihatkan rel di atas sebenarnya berbelok ke arah jalan raya dan memotong jalan seperti pada foto kedua. Sebenarnya terlihat rel di arah samping kanan jalan jika dilihat dari foto kedua, namun tidak kami foto pada saat itu. Anda dapat melihatnya jika anda menelusuri sendiri jika melewati titik stop 8 ini.

I. Titik Stop 9:

Gambar 20. Lokasi titik stop 9 dilihat dari Google Earth.
Di titik stop 9 ini, terdapat persimpangan jalur KA SDS yang melewati bawah jalan raya, yang disebut dengan underpass. Fotonya dapat dilihat di bawah ini (namun kurang lengkap dan kurang jelas). Badan underpass terlihat terbuat dari besi dan strukturnya berbentuk lorong persegi.

Gambar 21. Foto underpass jalur KA di titik stop 9 dilihat dari arah tenggara.

J. Titik Stop 10:

Gambar 22. Titik stop 10 dilihat dari citra satelit Google Earth.
Titik stop 10 sebelumnya penulis duga terdapat stasiun, namun kenyataannya tidak terdapat stasiun. Di titik tersebut hanya terdapat peninggalan SDS berupa persimpangan rel KA. Tidak juga terlihat rambu persimpangannya.

Gambar 23. Foto persimpangan jalur KA dengan jalan desa di titik stop 10.
Di dekat titik stop 10 tersebut juga terdapat suatu pabrik, namun pabrik itu belum kami cari tahu identitasnya.

K. Titik Stop 11:

Gambar 24. Gambar citra satelit di sekitar titik stop 11 dilihat dari Google Earth.


Gambar 25. Foto 1) jalan ke arah barat dan 2) jalan ke arah timur di titik stop 11.
Pola jalur kereta api bersebelahan dengan jalan raya dan terdapat peninggalan di titik stop 11. Jalur SDS terlihat mendekati jalan lalu berposisi bersebelahan dengan jalan dengan jarak yang sangat dekat (gambar 24). Kami menduga jalur tersebut berada di kiri jalan (dilihat dari arah barat) namun lebih rendah dari ketinggian jalan raya. Jalur tersebut lalu semakin menjauhi jalan raya semakin ke arah timur. Peninggalan SDS yang tersisa di sekitar titik stop 11 ini adalah rel-rel bekas yang disusun menjadi jembatan kecil.

Gambar 26. Foto rel-rel bekas peninggalan SDS yang disusun menjadi suatu jembatan kecil.

L. Titik Stop 12:

Gambar 27. Gambar citra satelit di titik stop 12 dan sekitarnya dilihat dari Google Earth.
Kami akhirnya mencapai titik stop yang membuat kami penasaran, yakni titik stop 12. Di titik ini, kami menemukan banyak peninggalan SDS, dimana yang paling mencolok adalah bangunan stasiun Selokromo. Stasiun tersebut masih terlihat berarsitektur kuno. Papan aset milik PT KAI masih terpasang di tembok stasiun tersebut. Sebenarnya ada beberapa orang di sekitar stasiun tersebut yang ingin kami tanya mengenai informasi tentang stasiun tersebut, namun mereka pergi saat kami sedang memfoto-foto bangunan di dekat stasiun tersebut.


Gambar 28. Foto 1) stasiun Selokromo dilihat dari arah barat laut dan 2) papan aset PT KAI di tembok stasiunnya.
Di sekitar titik stop 12, kami menemukan dua bangunan misterius. Bangunan pertama berada di dekat stasiun Selokromo (gambar 29: 1). Bangunan ini kami duga merupakan bekas tandon air, yangmana hal itu dikarenakan oleh ukuran dan bentuk bangunan ini yang kecil dan hampir persegi. Lalu bangunan kedua adalah bangunan yang lebih misterius (gambar 29: 2). Bangunan ini kami duga adalah bekas gudang stasiun Selokromo. Hal yang aneh adalah, mengapa terdapat dua batangan rel di atas bangunan tersebut.


Gambar 29. Foto 1) bangunan misterius yang diduga adalah bekas tandon air dan 2) bangunan misterius yang diduga adalah bekas gudang stasiun Selokromo.
Dilihat dari citra satelit Google Earth dan pengamatan di lapangan, emplasemen stasiun Selokromo di titik stop 12 tergolong panjang dan luas. Posisi emplasemen berada di utara stasiun Selokromo. Emplasemen tersebut telah berubah menjadi gabungan antara kebun pisang, pepohonan, dan persawahan. Sepertinya tidak terdapat peron pada stasiun ini dan rel-rel pada emplasemen sudah dibongkar.

Gambar 30. Foto emplasemen stasiun Selokromo (di bagian kanan foto) jika dilihat dengan menghadap ke arah barat.

M. Titik Stop 13:

Gambar 31. Gambar citra satelit titik stop 13 dilihat dari Google Earth.



Gambar 32. Foto 1) sebuah bangunan misterius di atas jalur KA (dilihat dari arah tenggara), 2) jalan pavement di jalur KA yang mengarah ke jembatan (dilihat dari arah selatan), dan 3) & 4) peninggalan jembatan SDS di atas sungai Galuh (Serayu).
Peninggalan perkeretaapian di titik stop 13 masih banyak, terutama adalah jembatan kereta api. Jalur kereta di sekitar titik ini telah berubah menjadi jalan pavement/tegelan. Namun masih ada sisa bantalan besi rel seperti di gambar 31 (1) dan di jembatan (gambar 31: 3). Di atas jalur di bagian barat daya titik stop 13, terdapat sebuah bangunan/gubuk yang masih belum teridentifikasi. Di titik ini, terdapat jembatan peninggalan SDS yangmana mayoritas bagiannya masih utuh. Di gambar 31 (3) dapat dilihat bahwa jembatan KA tersebut telah dialihfungsikan menjadi jalan umum cor-coran yang menghubungkan dua tepi sungai, namun batangan rel dan bantalannya masih tersusun seperti semestinya. Di jembatan tersebut (gambar 31: 4), pilar dan badan jembatan masih utuh dan nampaknya jembatan itu sendiri masih kokoh karena digunakan untuk lalu-lalang kendaraan seperti sepeda motor.

M. Titik Stop 14:

Gambar 33. Gambar citra satelit titik stop 14 dilihat dari Google Earth.





Gambar 34. Foto-foto yang didapatkan dari titik stop 1: a), b), c, dan d) menunjukkan jalur SDS dan beberapa peninggalannya, sementara e) bangunan yang sebelumnya diduga sebagai stasiun/halte.
Di sekitar titik stop 1 masih terdapat peninggalan SDS. Peninggalan tersebut adalah potongan rel dan beberapa bantalan rel KA yang bersimpangan dengan jalan aspal dan di samping jalan tersebut. Tepat di titik stop 1 sendiri, terdapat bangunan yang merupakan tempat peternakan bebek (gambar 34: e). Kami awalnya menduga bahwa rumah tersebut adalah bekas stasiun Krasak maupun stasiun Selomerto, namun ternyata kami salah. Selain itu, ternyata peternakan tersebut berada di atas jalur KA SDS, dan dimiliki oleh seseorang yang telah lama mengelola peternakan tersebut sebagai salah satu pekerjaan sampingannya. Peninggalan KA di sekitar bangunan tersebut sendiri nampaknya sudah diambil/menghilang karena kami tidak melihat adanya peninggalan di sekitar bangunan itu.

N. Titik Stop 14, 15, 16, dan 17:

Gambar 35. Gambar citra satelit titik stop 14, 15, 16, dan 17 dilihat dari Google Earth.
Jalur kereta di antara titik stop 14, 15, 16, dan 17 terlihat artistik karena berbentuk meliuk-liuk. Dari titik stop 14 ke 16 dapat dilihat bahwa jalur KA SDS berbentuk setengah lingkaran (curve) lalu meliuk sedikit sampai ke persimpangan datar (bypass) di titik stop 16. Selanjutnya dari titik stop 16 ke 17 dapat dilihat bahwa jalur KA SDS memutar 180° sehingga di titik stop 17, ketinggian jalur KA lebih tinggi dari jalan raya dan bersimpangan dengan jalan melewati atas (overpass). Pola jalur kereta seperti ini jarang ditemui di daerah yang datar, karena di sekitar titik-titik stop ini, daerahnya merupakan bukit-bukit yangmana semakin ke wonosobo, ketinggian permukaan tanah semakin tinggi. Jika dilihat dari Google Earth, pola jalur ini telihat artistik. Namun kami belum mengetahui secara jelas alasan-alasan dibuatnya pola trase jalur KA tersebut saat jaman Belanda.

Gambar 36. Foto-foto di antara titik stop 15 dan 16.
Kami tidak berhenti di titik stop 15, namun kami mencurigai bahwa lokasi di antara titik stop 15 dan 16 terdapat stasiun Selomerto. Kami tidak berhenti di titik stop 15 karena lokasi tersebut bukanlah stasiun. Menurut seorang warga, stasiun Selomerto berada di antara titik stop 15 dan 16. Kami pun menuju lokasi tersebut, dan kami memfoto beberapa bangunan di sekitar lokasi tersebut (gambar 36). Kami menduga salah satu dari bangunan tersebut merupakan stasiun Selomerto di jaman dahulu. Dugaan tersebut juga diperkuat dengan citra satelit Google Earth (gambar 35) yang menunjukkan bahwa di antara titik stop 15 dan 16, pola jalur cenderung berbentuk lurus, yangmana pola jalur yang lurus umumnya sesuai untuk dijadikan kawasan stasiun.


Gambar 37. Foto-foto di sekitar titik stop 16.
Foto-foto pada Gambar 37 di atas menunjukkan persimpangan datar antara jalan dan jalur KA SDS. Di persimpangan tersebut, rel kereta masih utuh namun sebagian besar terpendam aspal jalan raya. Di dekat persimpangan tersebut, masih ada rel yang terlihat jelas (yang menuju ke titik stop 15). Kami tidak melihat atau menemukan rambu persimpangan datar jalur KA.

Gambar 38. Foto 1) overpass di titik stop 17 dilihat dari arah selatan dan 2) overpass di titik stop 17 dilihat dari arah utara.
Peninggalan SDS berupa overpass di titik stop 17 terlihat masih utuh. Jika dilihat dari selatan, jembatan tertempeli oleh banner-banner iklan (gambar 38: 1). Jika dilihat dari utara, lebih sedikit banner yang tertempel (gambar 38: 2). Di atas jembatan overpass tersebut, terdapat rel yang berbentuk agak melekuk. Hal itu karena overpass tersebut berbentuk lurus sedangkan rel di atasnya seharusnya juga berbentuk lurus. Kami menduga bahwa rel tersebut bukanlah rel yang seharusnya ditempatkan di overpass tersebut. Keutuhan overpass ini dapat dilihat dari struktur bangunan penyangga/tepi jembatan, bangunan landasan rel, dan rel serta bantalan yang masih ada pada saat penelusuran ini. Namun di bagian selatan overpass atau di jalur yang ke arah Banjarnegara, tanah yang menopang jalur KA sudah dikeruk/digusur. Hal itu penulis duga disebabkan oleh adanya pembangunan rumah/bangunan tertentu di atas jalur tersebut. Sementara di bagian jalur yang menuju Wonosobo, tanah landasannya (track bed) masih utuh, namun telah ditanami tanaman di atasnya. Seperti yang dapat anda lihat, ketinggian jalur lebih tinggi dari jalan raya (gambar 38) meskipun jalan raya cenderung semakin menanjak semakin ke arah Wonosobo. Hal ini menandakan bahwa pola jalur KA SDS dari titik stop 16 ke 17 merupakan tanjakan yang cukup tajam yangmana tanjakan tersebut didukung oleh pola putaran/belokan/curvenya.

O. Titik Stop 18:

Gambar 39. Lokasi titik stop 18 dilihat Google Earth.

Gambar 40. Jalur KA SDS di titik stop 18: 1) dilihat dari arah tenggara/timur; 2) dilihat dari arah utara; dan 3) dilihat dari arah selatan.
Jalur KA SDS di titik stop 18 bersimpangan dengan jalan desa. Dapat dilihat pada gambar 18 (1 dan 3) bahwa jalur KA tidak dibiarkan ditumbuhi oleh tanaman namun dijadikan jalan setapak yangmana mengikuti pola jalurnya. Terdapat rel di persimpangan ini yang masih ada sampai beberapa meter ke jalur yang mengarah ke Wonosobo. Penulis menduga bahwa pada zaman Belanda dahulu, persimpangan ini masih terdiri dari jalur kereta dan jalan setapak yang terbuat dari tanah, dan pemandangan di sekitar titik stop 18 ini masih sangat alami tanpa ada perumahan.

P. Titik Stop 19:

Gambar 41. Lokasi titik stop 19 dilihat Google Earth.


Gambar 42. Foto-foto di sekitar titik stop 19: 1) dilihat dari arah timur (berada di kiri jalan dari arah Banjarnegara), 2) dilihat dari arah barat (berada di kiri jalan dari arah Banjarnegara), 3) dilihat dari arah barat laut (berada di kiri jalan dari arah Banjarnegara), dan 4) dilihat dari arah timur laut (berada di kanan jalan dari arah Banjarnegara).
Pola jalur dan peninggalan SDS di titik stop 19 masih cukup jelas. Di titik ini, pola jalur SDS terlihat bersimpangan dengan jalan raya (gambar 42) yangmana sesuai dengan tampilan Google Earth (gambar 41). Pola tersebut terlihat dari jalan setapak yang mengikuti pola jalur KA SDS di sekitar titik stop ini, sehingga bukaan yang dihasilkan dari jalan setapak tersebut menandakan bahwa jalur KA bersimpangan dengan jalan raya. Peninggalan di titik ini sendiri adalah rel yang masih tersisa di bagian barat jalan (gambar 42: 4). Sementara bagian rel lainnya diduga telah terpendam di bawah aspal jalan raya. Jika dilihat secara seksama, di gambar 42 (4) rel terlihat masih memiliki guard rail/check rail. Hal itu menandakan bahwa di jaman SDS masih beroperasi, titik stop 19 merupakan persimpangan KA yang resmi.

Q. Titik Stop 20:

Gambar 43. Titik stop 20 dilihat melalui citra satelit Google Earth.

Gambar 44. Foto-foto di sekitar titik stop 20.
Kami menduga di titik stop 20, terdapat suatu stasiun maupun halte. Menurut suatu sumber di internet, stasiun yang berada di sekitar titik stop 20 tersebut adalah halte Penawangan. Namun kami tidak menemukan secara pasti lokasi halte tersebut. Kami juga lupa menanyakan keberadaan halte tersebut. Sehingga kami hanya menduga dan mencurigai bahwa salah satu bangunan di sekitar jalur KA di titik stop 20 tersebut adalah halte Penawangan.

R. Titik Stop 21:

Gambar 45. Gambar citra satelit di sekitar titik stop 21 dilihat dari Google Earth.

Gambar 46. Foto-foto yang didapatkan dari titik stop 21.
Berdasarkan pengamatan kami, peninggalan SDS di titik 21 masih cukup terlihat jelas dan jalur KA di titik stop 21 merupakan persimpangan kereta pada jaman dahulu. Peninggalan tersebut adalah rel kereta yang dapat dilihat dari gambar 46, meskipun sebagian besar terpendam di bawah aspal. Selain itu persimpangan antara jalur KA dan jalan raya terlihat dari pola jalurnya yang memotong jalan raya. Persimpangan ini unik karena dari persimpangan ini bertempat di tengah perempatan/percabangan jalan dimana ada satu jalan raya dari arah Banjarnegara dan ada 3 jalan raya dari arah Wonosobo. Mungkin pada jaman aktifna SDS, persimpangan ini ramai pada saat pengendara dan pejalan kaki menunggu kereta lalu-lalang.

S. Titik Stop 22:


Gambar 47. Gambar citra satelit di titik stop 22 dan sekitarnya dilihat dari Google Earth.

Gambar 48. Foto-foto di titik stop 21 dan sekitarnya.
Titik stop 21 merupakan stasiun yang berada di ujung jalur SDS yang menuju ke arah Wonosobo. Di titik ini, terdapat stasiun yang dikategorikan stasiun besar pada jamannya, yaitu Stasiun Wonosobo. Letak titik stop 21/Stasiun Wonosobo ini adalah di bagian timur laut kota Wonosobo (gambar 47). Kondisi stasiun Wonosobo masih terlihat utuh. Hanya sebagian bagian saja yang berubah menjadi bengkel/ruko, namun struktur bangunan stasiun masih sama seperti foto-foto lain tentang stasiun ini dari sumber-sumber di internet. Jika dilihat di gambar 48, terdapat wesel manual di dekat bangunan Stasiun Wonosobo yang terlihat telah berkarat. Emplasemen stasiun Wonosobo sendiri terlihat masih ada, walaupun sebagian sudah menjadi perumahan. Di emplasemen tersebut, masih terdapat rel-rel kereta yang berada di jalurnya maupun telah dipindahkan ke tempat lain. Jalur kereta SDS di stasiun ini berujung di beberapa meter di utara stasiun. Berdasarkan suatu sumber di internet, stasiun ini memiliki sebuah turntable. Namun kondisi turntable itu tidak kami foto karena kami tidak mengetahui lokasi pastinya dan waktu penelusuran kami saat itu sudah semakin terbatas yangmana mengharuskan kami untuk kembali ke rumah.

Penelusuran dari titik-titik di Banjarnegara hingga Stasiun Wonosobo ini terasa memuaskan. Penulis mendapat banyak informasi mengenai kondisi peninggalan jalur SDS di sekitar titik-titik tersebut. Kepuasan seperti ini didapatkan dari informasi dan hiburan rohani yang didapatkan selama penelusuran.
Dengan postingan episode 4 ini, maka penelusuran dari episode 1 hingga 4 dapat dianggap satu kesatuan jalur KA SDS dari Maos - Wonosobo.
Maaf jika bahasa dan informasi yang penulis sampaikan kurang berkenan maupun salah bagi anda. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan perbaikan jika terdapat informasi yang lebih tepat. Selain informasi tersebut, anda juga dapat memberikan komentar terhadap postingan ini.
Nantikanlah dan bacalah episode-episode penelusuran lainnya terutama yang bertempat di Pulau Jawa di blog ini. Terimakasih.


Comments

Popular posts from this blog

Hasil Dokumentasi Jalur KA Tuntang-Bringin

Selamat membaca, railfans!             Di post ini, saya akan menunjukkan hasil dokumentasi di sekitar jalur NIS yang berada di antara Tuntang-Bringin. NIS sendiri merupakan kependekan dari Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. NIS adalah salah satu perusahaan kereta api di Hindia Belanda (APKA, 1997). Kantor pusat NIS ada di Kota Semarang, dimana sekarang menjadi Lawang Sewu. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 27 Agustus 1863. Sebelumnya, pada tanggal 28 Agustus 1862 Pemerintah Hindia-Belanda telah memberikan konsesi kepada W. Poolman, Alex Frazer, dan E.H. Kol yang juga merupakan pendiri perusahaan ini untuk membangun jalur kereta api dari Semarang sampai Yogyakarta (Wibisono dan Kurniawan, 2014). Jalur utamanya dibuka pada tahun 1867 antara Semarang-Tanggung. Pada tahun yang sama, jalur cabang dari Kedungjati ke Stasiun Willem I (sekarang Museum KA Ambarawa) juga mulai dibuka. Dokumen di sekitar jalur NIS ini b...

Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij Episode 3

Selamat datang railfans! Penelusuran Jalur Kereta Api Serajoedal Stoomtram Maatschappij Episode 3: Stasiun Purwareja Klampok – Stasiun Banjarnegara Jalur yang kali ini penulis telusuri adalah jalur SDS dari Stasiun Purwareja Klampok hingga Stasiun Banjarnegara. Jalur ini melewati kecamatan Purwareja Klampok, Mandiraja, Bawang, dan kecamatan Banjarnegara. Panjang jalur ini kurang lebih 30 km. Dalam masa pembangunannya, jalur ini dibangun pada tahap pertama. Kondisi komponen-komponen perkeretaapian di jalur ini banyak yang sudah tidak terjaga sampai saat ini, namun rel-rel masih banyak yang terlihat, hal ini terlihat dalam beberapa foto yang akan ditampilkan di postingan ini. Dan penelusuran jalur SDS ini dilakukan pada tanggal 4 Januari 2018 (Kamis), dan menyedihkannya hal ini hanya dilakukan oleh penulis saja seorang diri. Berikut ini hasil dan keterangan penelusuran pada episode 3 ini: Gam...