Selamat datang railfans!
Episode 1: Stasiun Maos – Stasiun Purwokerto
Timur
Kami berangkat untuk menelusuri jalur SDS dengan tujuan,
persiapan sarana dan waktu, serta kondisi jasmani yang kami pertimbangkan.
Lokasi tujuan penelusuran jalur SDS yang akan kami telusuri ini dimulai dari
Stasiun Maos, yang merupakan salah satu stasiun penghubung jalur SDS dengan SS (Staats
Spoorwegen) waktu itu, sampai ke Stasiun Purwokerto Timur. Panjang jalur SDS
dari Stasiun Maos – Stasiun Purwokerto Timur ini kurang lebih 28,5 km. Persiapan
sarana yang kami siapkan untuk penelusuran ini yaitu membawa kamera SLR sebagai
perangkat utama dokumentasi (hunting foto) dan menggunakan sepeda motor sebagai
transportasi utama yang fleksibel. Kami juga memperkirakan akan sampai di
Stasiun Maos dari rumah sekitar pukul 10.00 WIB, dan batas waktu penelusuran
pukul 18.00 WIB. Dan kondisi jasmani dan rohani kami terasa cukup normal saat
itu, sehingga kami bersepakat untuk melakukan penelusuran/hunting foto di jalur
SDS ini (tanggal 5 Juli 2017, Rabu).
Gambar 1. Rute jalur SDS yang ditelusuri (Stasiun Maos –
Stasiun Purwokerto Timur) dilihat dari Google Earth.
Kondisi jalur KA dari Maos –
Kalibogor terlihat memprihatinkan, hal itu dibuktikan dari hasil-hasil obyek
foto yang kami dapatkan. Peninggalan jalur tersebut hanya berbekas berupa pola
rel (jalur) dan emplasemen stasiun/halte yang lokasinya masih cukup terjaga. Dari
informasi yang pernah saya ketahui dari orang yang berdomisili di Sampang,
bekas rel-rel dan rambu-rambu KA dari Maos – Patikraja kebanyakan sudah
dipunguti oleh orang-orang yang belum diketahui identitasnya. Dan setelah kami
melakukan penelusuran dari Maos – Patikraja lalu sampai Tanjung, hasil obyek
foto yang kami dokumentasikan rata-rata berupa emplasemen rel kereta api dan
emplasemen stasiun. Dengan hilangnya bekas-bekas komponen penting transportasi
kereta api seperti rel, palang pintu, bantalan rel, hingga tiang-tiang sinyal
rambu kereta api di wilayah Maos – Tanjung tersebut menyebabkan jumlah obyek
penelusuran yang didokumentasikan juga tidak banyak.
Berikut dokumen-dokumen yang kami dapatkan:
Gambar 2. Stasiun Maos (Maos, Cilacap).
Gambar 3. Percabangan jalur SDS ke
Stasiun Purwokerto Timur di sebelah timur Stasiun Maos yang digunakan sebagai
depot pertamina.
Stasiun Maos bersifat aktif saat ditelusuri. Stasiun Maos tersebut memiliki cabang jalur (SDS) ke arah Sampang, maka dari itu keberadaan Stasiun Maos masih memiliki nilai sejarah terkait masa jayanya SDS. Sekarang seperti yang dapat dilihat, percabangan SDS sudah tidak terlihat lagi.
Gambar 4. Percabangan jalur ke Stasiun Purwokerto
Timur.
Percabangan
ini tertutup oleh aspal. Fasilitas yang menutupi percabangan tersebut diduga merupakan depot Pertamina Maos. Kami tidak mengetahui apakah emplasemen percabangan tersebut masih ada di bawah aspal atau telah dipindahkan.
Karena
keterbatasan informasi, kami belum mendokumentasikan bangunan maupun emplasemen
Halte Panisinan, Halte Tinggartugu, Halte Glempong, Halte Tinggardengkol, dan
Halte Gringging. Keterbatasan informasi tersebut terjadi karena kami belum
mencari literatur-literatur yang memuat koordinat/letak eksak Halte-halte
tersebut. Untuk itu keberadaan maupun perkiraan lokasi Halte-halte tersebut pun
belum kami telusuri. Namun semoga saja di kesempatan penelusuran/dokumentasi
yang akan datang, informasi mengenai letak-letak peninggalan berupa Halte
maupun Stasiun dapat dipersiapkan dengan lebih matang.
Gambar 5. Tempat yang kami duga Halte
Sampang.
Gambar 7. Jalur SDS yang membelok ke arah utara dari Halte Sampang (2).
Emplasemen Halte Sampang
belum kami temukan, sehingga pola jalurnya saja yang kami dokumentasikan.
Menurut seorang bapak yang berdomisili di Sampang, Halte Sampang sudah menjadi
rumah warga dan berlokasi di seberang irigasi Sampang. Hal itu membuat kami hanya
mendokumentasikan pola jalur yang ada di Sampang saja. Dokumen yang kami anggap
menarik adalah belokan jalur dari Sampang yang menuju ke Stasiun Purwokerto
Timur. Belokan jalur tersebut jika dilihat dari pola yang saya buat pada GE
(ada di gambar 1) membentuk sudut hampir 90˚.
Gambar 8. Emplasemen jembatan rel SDS
yang berada di antara Halte Sampang dan Halte Gambarsari.
Gambar 9. Tempat yang kami duga Halte Gambarsari.
Halte Gambarsari juga belum
kami temukan bekasnya. Namun dari hunting foto yang didapatkan di sekitar
Gambarsari, kami menduga bagian karangan warga tersebut (gambar 9) adalah
emplasemen Halte Gambarsari. Lapangnya karangan pada emplasemen tersebut
menguatkan dugaan kami akan lokasi Halte Gambarsari yang kemungkinan berada di
antara rumah-rumah warga di sebelah karangan itu.
Gambar
10. Jalur SDS yang berdekatan dengan jalur SS di Gambarsari (1).
Gambar 11.
Jalur SDS yang berdekatan dengan jalur SS di Gambarsari (2).
Jalur SDS di Gambarsari ini
unik karena memotong fasilitas Bendungan Gerak Kali Serayu dan berdekatan
dengan jalur SS. Perpotongan jalur dengan Bendungan Gerak Kali Serayu terlihat
pada gambar 11. Hal itu dikuatkan dengan pola jalan yang berada di bagian
timur-laut BGKS yang menyerupai lengkungan jalur dengan kerataan tanah yang
rata. Jalur SDS tersebut juga berdekatan dengan jalur SS sebagaimana terlihat
pada gambar 10 dan 11. Hal tersebut terlihat juga pada pola GE yang kami buat
(gambar 1).
Gambar 12.
Jalur SDS yang berdekatan dengan terowongan jalur SS di sebelah timur-laut
BGKS.
Gambar 13.
Pembangunan jalur SS di Mandirancan.
Di sela-sela penelusuran
(hunting foto) ini, kami juga melihat adanya pembangunan jalur SS di sekitar
Mandirancan (tanggal 5 Juli 2017). Pembangunan tersebut saat itu dilakukan dari
daerah Kebasen – Notog. Komponen yang dibangun sepertinya terowongan KA (berada
di sebelah terowongan SS Kebasen), jembatan KA (di sebelah jembatang SS
Mandirancan), dan jalur tambahan di daerah tersebut (mungkin double track).
Pembangunan tersebut sepertinya sedang menjalani tahap persiapan pondasi tanah
untuk jembatan, pendesainan terowongan, dan perataan dan pemadatan tanah untuk
jalur KA.
Gambar
14. Pola jalur SDS yang bersilangan dengan jalur SS (jalur SS berada di
atasnya).
Di sekitar jembatan KA di Mandirancan
ini (SS), jalur SDS sepertinya telah menjadi gundukan tanah di dalam kebun
ataupun hutan warga serta sebagian menjadi jalan beraspal. Gundukan tanah
tersebut berada di sebelah barat jembatan. Sedangkan sebagian jalur terlihat
menyatu dengan jalan aspal di didepan rumah-rumah warga (berada di sebelah
timur jembatan). Terdapat juga beberapa bekas bantalan dan batangan rel SDS
yang tersebar di sekitar bawah jembatan SS tersebut (bantalan dan rel tersebut
terlihat berkarat dan beberapa tertimbun tanah).
Gambar
15. Jalur SDS yang membelok di sebelum jembatan SDS Patikraja.
Berhubung batas waktu yang
kami tetapkan hampir habis untuk menelusuri jalur SDS ini, maka kami mempercepat
dokumentasi penelusuran khususnya di Patikraja. Hal tersebut mengakibatkan kami
melupakan satu hal yaitu memfoto emplasemen Halte Mandirancan (keberadaan halte
ini tidak terdapat dalam literatur yang kami gunakan, namun seseorang pernah
mendokumentasikan Halte tersebut di situsnya). Lalu kamipun mempercepat
perjalanan, kami mendokumenasikan belokan jalur SDS sebelum jembatan SDS
Patikraja dan jembatan itu sendiri, serta memfoto bangunan yang kami duga Halte
Patikraja. Dan karena perjalanannya dipercepat, obyek yang kami dokumentasikan
terlihat kurang jelas hasilnya, apalagi karena saat itu hari juga sudah mulai
petang (sekitar pukul 17.00 WIB).
Gambar 17. Tempat yang kami duga Halte Patikraja (rumah yang
berwarna hijau keputihan).
Gambar 18. Bangunan yang kami duga
Halte Sidabowa.
Setelah
mendokumentasikan Halte Patikraja, kami mendokumentasikan peninggalan Halte
Sidabowa. Letak Halte tersebut agak dekat dengan Halte Patikraja, sekitar 530
meter. Hal yang kami dokumentasikan di sekitar Halte tersebut adalah emplasemen
Halte Sidabowa, dimana alang-alang dan tumbuhan pisang mendominasi hampir
seluruh daerah di sekitar Halte tersebut. Selain itu kami juga memfoto Halte
Sidabowa tersebut, beserta suatu tandon air di dekatnya. Namun bagian dalam
Halte tersebut belum kami dokumentasikan karena kami tidak memiliki akses untuk
memasuki bangunan Halte tersebut. Dan gambar yang kami dokumentasikan di
sekitar Halte tersebut juga terlihat kurang jelas karena cahaya matahari tidak
cukup menyinari pada waktu itu (sekitar pukul 17.45).
Gambar 19. Jalur SDS yang menuju ke
arah Patikraja (dari arah timur laut).
Selanjutnya
kami meneruskan penelusuran sampai ke daerah Tanjung, Purwokerto Barat. Di
perjalanan, kami mendokumentasikan beberapa lokasi yang berkaitan dengan aset
peninggalan perusahaan SDS. Karena sekali lagi waktu terbatas, maka kami
melewatkan tiga lokasi yang sebelumnya sudah kami rencanakan, yaitu lokasi
Halte Tanjung, sisa-sisa jembatan SDS di Tanjung, dan jembatan SDS yang
menghubungkan jalur SDS ke Stasiun Purwokerto. Akhirnya kamipun mencapai daerah
Tanjung (sebelum pertigaan jalan Jenderal Sudirman), di sana kami melewati
Kerkhoff Purwokerto yang lokasinya juga berdekatan dengan ‘Taman Makan Pahlawan
Tanjung Nirwana’, namun hal yang kami dokumentasikan yakni hanya persimpangan
rel SDS dan percabangan rel SDS ke Stasiun Purwokerto (yang dahulu dibangun
oleh perusahaan SS).
Gambar 20. Bekas persimpangan jalur kereta yang membungkan
jalur SDS dengan SS (dari dokumen lain yang diambil pada tanggal 11 September
2015).
Gambar 21. Eks Stasiun Timur Purwokerto (tertutup oleh pagar
seng) difoto dari arah timur.
Gambar 22. Jalur SDS yang mulai mendekati badan jalan di
sebelah timur eks Stasiun Timur Purwokerto.
Setelah
mencapai Stasiun Timur Purwokerto, kami mengakhiri penelusuran kali ini. Karena
stasiun tersebut telah dipagari oleh seng, kami memutuskan untuk pulang. Alasan
pemagaran tersebut diketahui karena tempat eks Stasiun Timur Purwokerto akan
dibangun menjadi tempat komersial, namun hal yang sedang dilakukan sekarang
salah satunya adalah penilaian Analisis Dampak Lingkungan pada tempat tersebut.
Setelah melakukan penelusuran ini, kami berencana untuk meneruskan penelusuran
jalur SDS di lain hari.
Sekian
hasil penelusuran SDS episode 1 ini. Episode selanjutnya dapat dilihat pada
blogspot ini. Terimakasih.




















Comments
Post a Comment